Minggu, 06 Januari 2013

Ayat-Ayat Tentang Tujuan Pendidikan


AYAT-AYAT TENTANG TUJUAN PENDIDIKAN

       I.            PENDAHULUAN
Dinamika di zaman diiringi perubahan dalam segala hal karena pendidikan disepelekan kemerosotan akhlak, moral, terjadi dimana-mana. Dalam hal ini pemuda sebagai generasi penerus bangsa telah dipengaruhi oleh gaya-gaya barat yang disebarluaskan melalui berbagai media. Seperti televisi, internet, dan lain sebagainya. Sehingga krisis akhlak melanda pada manusia terutama generasi muda sekarang ini.
Pendidikan yang ada dalam al-Qur’an tersebut adalah untuk menata kehidupan manusia supaya bisa teratur dari segi kemasyarakatan berbangsa, bernegara dan yang terpenting adalah menata kehidupan berkeluarga, karena tujuan pendidikan ini bisa dilakukan oleh manusia (orang yang berilmu dan bertaqwa) yang akan menciptakan kehidupan yang harmonis dan sejahtera.[1]
Islam juga menegaskan bahwa bukti keimanan ialah jiwa yang bersih dan bukti keislaman adalah berpendidikan dan berakhlak yang baik. Dalam makalahini kami akan mencoba membaha tentang ayat-ayat yang berkenaan dengan tujuan pendidikan.

    II.            POKOK BAHASAN
Dalam makalah ini, kami akan membahas ayat-ayat sebagai berikut :
A.       Surat Al-An’am : 97-99
B.       Surat Yunus : 5-6
C.       Surat An-Nahl : 5-14
D.       Surat Al-An’am : 161-164

 III.            PEMBAHASAN
A.       Surat Al-An’am: 97-99

qèdur Ï%©!$# Ÿ@yèy_ ãNä3s9 tPqàfZ9$# (#rßtGöktJÏ9 $pkÍ5 Îû ÏM»yJè=àß ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur 3 ôs% $uZù=¢Ásù ÏM»tƒFy$# 5Qöqs)Ï9 šcqßJn=ôètƒ ÇÒÐÈ uqèdur üÏ%©!$# Nä.r't±Rr& `ÏiB <§øÿ¯R ;oyÏnºur @s)tGó¡ßJsù ×íyŠöqtFó¡ãBur 3 ôs% $uZù=¢Ásù ÏM»tƒFy$# 5Qöqs)Ï9 šcqßgs)øÿtƒ ÇÒÑÈ uqèdur üÏ%©!$# tAtRr& z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB $oYô_t÷zr'sù ¾ÏmÎ/ |N$t7tR Èe@ä. &äóÓx« $oYô_t÷zr'sù çm÷YÏB #ZŽÅØyz ßl̍øƒU çm÷YÏB ${6ym $Y6Å2#uŽtIB z`ÏBur È@÷¨Z9$# `ÏB $ygÏèù=sÛ ×b#uq÷ZÏ% ×puŠÏR#yŠ ;M»¨Yy_ur ô`ÏiB 5>$oYôãr& tbqçG÷ƒ¨9$#ur tb$¨B9$#ur $YgÎ6oKô±ãB uŽöxîur >mÎ7»t±tFãB 3 (#ÿrãÝàR$# 4n<Î) ÿ¾Ín̍yJrO !#sŒÎ) tyJøOr& ÿ¾ÏmÏè÷Ztƒur 4 ¨bÎ) Îû öNä3Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏB÷sムÇÒÒÈ
Artinya:
97.  Dan dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya kami Telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (kami) kepada orang-orang yang Mengetahui.
98.  Dan dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, Maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya Telah kami jelaskan tanda-tanda kebesaran kami kepada orang-orang yang Mengetahui.
99.  Dan dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan Maka kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.
a)      Munasabah
Munasabah antara ayat-ayat ini dan sebelumnya yaitu jika ayat sebelumnya telah berbicara tentang kekuasaan Allah mengenai matahari dan bulan yang mana didalamnya terdapat banyak pelajaran. Kini kita juga akan membaas tentang kekuasaan Allah, seperti bintang-bintang serta manfaatnya buat manusia.[2]
b)     Tafsiran
Hanya Allah swt semata yang menciptakan bintang berkilauan sebagai tanda-tanda yang jelas, dan menjadikan tanda-tanda yang jelas ini sebagai bukti-bukti yang pasti. Dengannya, orang yang tersesat dan keliru arah dalam perjalanan, baik di daratan maupun di lautan, mendapat petunjuk. [3]
Yang dimaksud dengan kegelapan dalam ayat tersebut adalah kegelapan malam, kegelapan bumi atau air, serta kegelapan dalam arti kesalahan dan kesesatan.[4] Sejak awal peradaban umat manusia sampai sekarang, benda-benda langit merupakan tanda petunjuk perjalanan manusia, baik di darat maupun dilaut. Dengan meneropong matahari, bulan, dan bintang seseorang yang akan bepergian dapat menentukan arah yang hendak dituju. Bahkan, para antariksawan belakangan ini berpedoman pada matahari dan bintang dalam menentukan arah perjalanan pada suatu masa tertentu. Mereka juga menggunakan gugus bintang dalam menentukan waktu, seperti gugus Bintang Biduk. Dengan demikian, manusia dapat mengenal tempat dan waktu melalui bantuan bintang, persis seperti yang diisyaratkan ayat ini.
Dahulu, orang percaya bahwa bintang-bintang dan benda-benda langit adalah dewa-dewa yang mempunyai pengaruh pada bumi dan isinya. Yang mengetahui gerak benda-benda langit dipercaya oleh masyarakat dapat mengetahui apa yang akan terjadi bagi seseorang bahkan bagi masyarakat dan manusia seluruhnya. Para peramal membuat semacam peta bagi setiap orang sesuai dengan posisi bintang-bintang saat kelahirannya karena, menurut mereka, posisi bintang mempengaruhi sifat dan pembawaannya bahkan menentukan peristiwa-peristiwa yang dialaminya serta menentukan pula saat kematiannya. Masyarakat Arab Jahiliyyah pun mempercayai hal serupa. Hal ini tidak direstui Islam karena itu ilmu perbintangan, yakni astrologi bukan astronomi, yang dimasukkan oleh Nabi saw dalam bagian dari sihir. Rasulullah bersabda “siapa yang berkunjung kepada peramal dan bertanya sesuatu kepadanya (dan dia membenarkannya) maka shalatnya tidak diterima Allah selama empat puluh hari”. (HR. Muslim dan Ahmad melalui Abu Hurairah).
Tidak berbeda pendapat agamawan dalam menetapkan kekufuran siapa yang percaya bahwa bintang-bintang adalah tuhan-tuhan, baik dipuja maupun tidak, dan baik kepadanya diajukan permohonan maupun tidak. Adapun bahwa ia mempunyai pengaruh terhadap aktivitas manusia maka kepercayaan semacam ini pun sangat tidak direstui Islam walau sementara ulama tidak menilainya sebagai kekufuran. Ia adalah suatu kemungkaran dan kebodohan yang seharusnya tidak menyentuk seorang muslim.
Dalil bahwa potensi bintang-bintang dlam melahirkan peristiwa baru terjadi jika memenuhi sekian syarat tertentu, tidak mengurangi pandangan negatif ulama dan pemikir Islam terhadap astrologi dan peminat-peminatnya.[5]
Allahlah yang menjadikan kalian dari diri yang satu, yaitu manusia pertama yang dari padanya seluruh manusia turun-temurun, yaitu Adam. Dalam menjadikan manusia seluruh manusia dari satu diri, terdapat banyak keterangan atas kekuasaan, ilmu, kebijaksanaan dan keesaan Allah. Pengingatan akan semua itu menunjuk kepada kewajiban mensyukuri nikmat-Nya, disamping kepada saling mengenal dan menolong diantara umat manusia. Pemecahan manusia menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku mendorong untuk saling mencintai, bukan saling memusuhi, memerangi, atau menanamkan jiwa permusuhan dan kebencian diantara manusia.[6]
Untuk lebih menjelaskan kekuasaan-Nya ditegaskan lebih jauh bahwa Kami keluarkan darinya, yakni dari tanaman yang menghijau itu, butir yang saling bertumpuk, yakni banyak, padahal sebelumbnya ia hanya satu biji atau benih. Selanjutnya Allah memberi contoh dengan mendahulukan menyebut sesuatu yang berkaitan dengan butir karena butir yang disebut pertama pada ayat yang lalu (ayat 95), yaitu bahwa: Dan dari mayang, yakni pucuk kurma, mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, yang mudah dipetik dan kebun-kebun anggur, dan Kami keluarkan pula zaitun dan delima yang serupa bentuk buahnya dan tidak serupa aroma dan kegunaannya. Perhatikanlah buah yang dihasilkannya dengan penuh penghayatan guna menemukan pelajaran melalu beberapa fase di waktu pohonnya berbuah, dan perhatikan pula proses kematangannya yang melalui beberapa fase. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.
Kitab al-Muntakhab fi at-tafsir yang ditulis oleh sejumlah pakar mengemukakan bahwa: ayat tentang tumbuh-tumbuhan ini menerangkan proses penciptaan buah yangtumbuh dan berkembang melalui beberapa fase hingga sampai pada fase kematangan. Pada saat mencapai fase kematangan itu, suatu jenis buah mengandung komposisi zat gula, minyak, protein, berbagai zat karbohidrat, dan zat tepung. Semua ini terbentuk atas bantua cahaya matahari yang masuk melalui klorofil yang pada umumnya terdapat pada bagian pohon yang berwarna hijau, terutama pada daun. Daun itu ibarat pabrik yang mengolah komposisi zat-zat tadi untuk didistribusikan ke bagian-bagian pohon yang lain, termasuk biji dan buah.[7]
Air hujan adalah sumber air bersih satu-satunya bagi tanah. Sedangkan matahari adalah sumber semua kehidupan. Tetapi, hanya tumbuh-tumbuhan yang dapat menyimpan daya matahari itu dengan perantaraan klorofil untuk kemudian menyerahkannya kepada manusia dan hewan dalam bentuk bahan makanan organik yang dibentuknya.
Kemajuan ilmu pengetahuan telah dapat membuktikan kemahaesaan Allah. Zat hemoglobin yang diperlukan untuk pernapasan manuia dan sejmlah besar jenis hewan, berkaitn erat sekali dengan zak hijau daun. Atom, karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen mengandung atom zat besi di dalam molekul klorofil. Di dunia kedokteran, ditemukan bahwa klorofil, ketika diasimilasi oleh tubuh manusia, bercampur dengan sel-sel manusia. Percampuran itu kemudian memberikan tenaga dan kekuatan melawan bermacam bakteri penyakit. Dengan demikian, ia berfungsi sebagai benteng pertahanan tubuh dari serangan segala macam penyakit.[8]
Dibagian akhir ayat ini disebutkan (¾ÏmÏè÷ZtƒurÍ!yJøOr& #sŒÎ)(4n̍yJrOn<Î)#ÿrãÝàR$#) perhatikanlah buahnya di waktu (pohonnya) berbuah dan kematangannya. Perintah ini mendorong perkembangan ilmu tumbuh-tumbuhan (Botanik) yang sampai saat ini mengandalkan metode pengamatan bentu luar seluruh organnya dalam semua fase perkembangannya.
Ada tiga macam penutup berbeda yang digunakan oleh ketiga ayat yang lalu. Uraian tentang tanda kekuasaan-Nya menyangkut bintang (ayat 97) ditutup dengan menyebut bahwa tanda itu bagi kaum yang cqßJn=ôètƒ / mengetahui. Uraian tentang manusia dan perjalanan hidupnya dinyatakan sebagai tanda bagi kaum yang mengetahui dengan dalam / cqßgs)øÿtƒ (ayat 98). Sedang uraian tentang bukti kekasaan Allah pada tumbuh-tumbuhan dijadikan tanda bagi kaum yang bqãZÏB÷sム/ beriman (ayat 99). Perbedaan itu, menurut sementara ulama, untuk mengisyaratkan bahwa pengetahuan tentang bintang-bintang membutuhkan pengetahuan tertentu, yang sering kali tidak terjangkau oleh orang awam. Tetapi, untuk mengetahui tentang manusia dan bukti kekuasaan Allah menyangkut makhluk sosial itu jauh lebih sukar dari pada pengetahuan tentang alam raya. Ini membutuhkan pengamatan dan kedalaman analisis karena itu penutupnya menggunakan kata yafqahun yang mengandung makna pengetahuan yang lahir dari analisis yang tajam serta perbandingan-perbandingan guna mencapai satu kesimpulan. Memang pengetahuan kita tentang manusia hingga kini masih sangat terbatas, bukan saja karena keterlambatan manusia mempelajari dirinya, baik oleh generasi nenek moyang kita yang disibukkan oleh rasa takut menghadapi alam yang belumdiketahuinya maupun oleh generasi kita yang berlomba menumpuk kekayaan alam. Bahkan, bukan saja karena itu, tetapi karena manusia adalah makhluk yang sangat kompleks.[9]
Adapun ayat 99 yang ditutup dengan (bqãZÏB÷sãƒQöqs)Ïj9 ) bagi kaum yang beriman, ia ditutup demikian sebagai isyarat bahwa ayat-ayat ini atau tanda-tanda itu hanya bermanfaat untuk yang beriman. Memang, bisa saja ada yang mengetahui rahasia di balik fenomena yang diuraikan ayat-ayat di atas, tetapi bila pengetahuannya tidak disertai iman kepada Allah, pengetahuan tersebut tidak akan bermanfaat. Atau, dapat juga penutup itu dipahami sebagai mengisyaratkan bahwa yang tidak mengetahui dengan dalam atau bahkan yang tidak mengetahui walau sepintas tentang bukti-bukti tersebut bukanlah orang yang beriman.
B.       Surat Yunus: 5-6

uqèd Ï%©!$# Ÿ@yèy_ š[ôJ¤±9$# [ä!$uÅÊ tyJs)ø9$#ur #YqçR ¼çnu£s%ur tAÎ$oYtB (#qßJn=÷ètFÏ9 yŠytã tûüÏZÅb¡9$# z>$|¡Åsø9$#ur 4 $tB t,n=y{ ª!$# šÏ9ºsŒ žwÎ) Èd,ysø9$$Î/ 4 ã@Å_ÁxÿムÏM»tƒFy$# 5Qöqs)Ï9 tbqßJn=ôètƒ ÇÎÈ ¨bÎ) Îû É#»n=ÏG÷z$# È@ø©9$# Í$pk¨]9$#ur $tBur t,n=yz ª!$# Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcqà)­Gtƒ ÇÏÈ
Artinya:
5.  Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui.
6.  Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa.
a)    Munasabah
Ayat ini masih merupakan lanjutan dari uraian tentang kuasa Allah SWT Serta ilmu dan hikmah-Nya dalam mencipta, menguasai dan mengatur alam raya.[10] Setelah Allah Ta’ala menyebutkan ayat-ayat yang menunjukkan keberadaan-Nya dengan penciptaan langit dan bumi, termasuk sistem yang begitu rapi; maka disini Allah menyebutkan bermacam-macam ayat Kauniyyah. Yakni, ayat-ayat yang berkaitan dengan alam semesta, yang menunjukkan atas hal tersebut[11]
b)    Tafsiran
Allah SWT lah satu-satunya yang menjadikan matahari bersinar untuk alam semesta dan menjadikan bulan bercahaya untuk jagad raya. Sinar matahari itu membara panas dan cahaya bulan itu berpendar dingin. Dia mengedarkan bulan pada orbit-orbit yang sudah diketahui. Dengan matahari, dihitunglah hari-hari, dan dengan bulan, diketahuilah pergantian tahun. Allah tidak menciptakan matahari dan bulan kecuali karena adanya satu hikmah yang agung dan pertanda yang jelas tentang keindahan ciptaan-Nya dan keagungan mahakarya-Nya.[12] Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah, yakni tempat-tempat baginya, yakni bagi perjalanan bulan dan matahari itu supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.[13]
Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang, dan semua keajaiban ciptaan-Nya dan keanehan makhluk-Nya dengan segala keindahan, keteraturan, dan kesempurnaannya terdapat bukti-bukti nyata tentang keagungan Sang penciptanya.[14] Sesungguhnya pada pergantian, yakni perputaran bumi pada porosnya yang mengakibatkan terang dan gelap dan perbedaannya baik dalam masa panjang dan pendeknya.
C.       Surat An-Nahl: 5-14
zO»yè÷RF{$#ur $ygs)n=yz 3 öNà6s9 $ygŠÏù Öäô$ÏŠ ßìÏÿ»oYtBur $yg÷YÏBur tbqè=à2ù's? ÇÎÈ öNä3s9ur $ygŠÏù îA$uHsd šúüÏm tbqçt̍è? tûüÏnur tbqãmuŽô£n@ ÇÏÈ ã@ÏJøtrBur öNà6s9$s)øOr& 4n<Î) 7$s#t/ óO©9 (#qçRqä3s? ÏmŠÉóÎ=»t/ žwÎ) Èd,ϱÎ0 ħàÿRF{$# 4 žcÎ) öNä3­/u Ô$râäts9 ÒOÏm§ ÇÐÈ Ÿ@øsƒø:$#ur tA$tóÎ7ø9$#ur uŽÏJysø9$#ur $ydqç6Ÿ2÷ŽtIÏ9 ZpuZƒÎur 4 ß,è=øƒsur $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÑÈ n?tãur «!$# ßóÁs% È@Î6¡¡9$# $yg÷YÏBur ֍ͬ!$y_ 4 öqs9ur uä!$x© öNà61yolm; šúüÏèuHødr& ÇÒÈ uqèd üÏ%©!$# tAtRr& šÆÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB ( /ä3©9 çm÷ZÏiB Ò>#tx© çm÷ZÏBur ֍yfx© ÏmŠÏù šcqßJŠÅ¡è@ ÇÊÉÈ àMÎ6/Zム/ä3s9 ÏmÎ/ tíö¨9$# šcqçG÷ƒ¨9$#ur Ÿ@ϨZ9$#ur |=»uZôãF{$#ur `ÏBur Èe@à2 ÏNºtyJ¨V9$# 3 ¨bÎ) Îû šÏ9ºsŒ ZptƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcr㍤6xÿtGtƒ ÇÊÊÈ t¤yur ãNà6s9 Ÿ@ø©9$# u$yg¨Y9$#ur }§ôJ¤±9$#ur tyJs)ø9$#ur ( ãPqàfZ9$#ur 7Nºt¤|¡ãB ÿ¾Ín̍øBr'Î/ 3 žcÎ) Îû šÏ9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcqè=É)÷ètƒ ÇÊËÈ $tBur r&usŒ öNà6s9 Îû ÇÚöF{$# $¸ÿÎ=tFøƒèC ÿ¼çmçRºuqø9r& 3 žcÎ) Îû šÏ9ºsŒ ZptƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcr㍞2¤tƒ ÇÊÌÈ uqèdur Ï%©!$# t¤y tóst7ø9$# (#qè=à2ù'tGÏ9 çm÷ZÏB $VJóss9 $wƒÌsÛ (#qã_̍÷tGó¡n@ur çm÷YÏB ZpuŠù=Ïm $ygtRqÝ¡t6ù=s? ts?ur šù=àÿø9$# tÅz#uqtB ÏmŠÏù (#qäótFö7tFÏ9ur ÆÏB ¾Ï&Î#ôÒsù öNà6¯=yès9ur šcrãä3ô±s? ÇÊÍÈ
Artinya:
5.  Dan dia Telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.
6.  Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan.
7.  Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
8.  Dan (Dia Telah menciptakan) kuda, bagal[820] dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.
9.  Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. dan Jikalau dia menghendaki, tentulah dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).
10.  Dia-lah, yang Telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.
11.  Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.
12.  Dan dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya),
13.  Dan dia (menundukkan pula) apa yang dia ciptakan untuk kamu di bumi Ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.
14.  Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.
a)    Munasabah
Antara ayat-ayat 5-14 ini berhubungan erat sekali, yaitu menjelaskan kekuasaan dan anugerah Allah di alam ini.
b)   Tafsiran
Allah menganugerahkan karunia kepada hamba-hambanya dengan menciptakan binatang ternak bagi mereka, yaitu unta, sapi, dan kambing, serta berbagai manfaat dan kemaslahatan yang terdapat pada ternak itu seperti bulu domba, bulu unta dan bulu kambing yang dapat dibuat hamparan dan baju, susunya dapat kamu minum. Dia juga menceritakan nikmat yang dianugerahkan yang terdapat pada penurunan hujan dari langit. Pada hujan itu terdapat manfaat dan kesenangan bagimu dan binatang ternak. Dia menumbuhkan bagimu dengan air itu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala jenis buah-buahan. Allah mengeluarkan juga dari bumi dengan air ini berbagai buah-buahan yang beraneka jenis, rasa, warna , bau dan bentuknya[15]
Apa yang Allah ciptakan di atas muka bumi dan apa yang Allah titipkan buat manusia dari jenis barang tambang dapat menopang kebutuhan hidup mereka disetiap zaman. Memikirkan kandungan yang tersimpan di perut bumi yang disiapkan untuk mereka sehingga hajat hidup mereka sempurna setiap harinya. Lalu, manusia pun mengeksplorasi kandungan tersebut saat itu juga dan di saat membutuhkannya.
Nikmat lautan dan kehidupan di laut juga merupakan hajat dan keinginan. Di antara yang disebutkan adalah daging yang segar dari jenis ikan dan lainnya untuk dimakan. Disamping ada lagi nikmat lain dari jenis perhiasan seperti Lu’lu dan Marjan, dari jenis kerang dan siput yang biasa digunakan manusia hingga sekarang. Begitu pula dengan bahtera atau kapal layar memberikan keindahan tersendiri yang tidak hanya untuk ditumpangi atau sekedar sarana transportasi umumnya.[16]
D.       Surat An’am: 161-164
ö@è% ÓÍ_¯RÎ) ÓÍ_1yyd þÎn1u 4n<Î) :ÞºuŽÅÀ 5OŠÉ)tGó¡B $YYƒÏŠ $VJuŠÏ% s'©#ÏiB tLìÏdºtö/Î) $ZÿŠÏZym 4 $tBur tb%x. z`ÏB tûüÏ.ÎŽô³ßJø9$# ÇÊÏÊÈ ö@è% ¨bÎ) ÎAŸx|¹ Å5Ý¡èSur y$uøtxCur ÎA$yJtBur ¬! Éb>u tûüÏHs>»yèø9$# ÇÊÏËÈ Ÿw y7ƒÎŽŸ° ¼çms9 ( y7Ï9ºxÎ/ur ßNöÏBé& O$tRr&ur ãA¨rr& tûüÏHÍ>ó¡çRùQ$# ÇÊÏÌÈ ö@è% uŽöxîr& «!$# ÓÈöö/r& $|/u uqèdur >u Èe@ä. &äóÓx« 4 Ÿwur Ü=Å¡õ3s? @à2 C§øÿtR žwÎ) $pköŽn=tæ 4 Ÿwur âÌs? ×ouÎ#ur uøÍr 3t÷zé& 4 §NèO 4n<Î) /ä3În/u ö/ä3ãèÅ_ó£D /ä3ã¥Îm7t^ãsù $yJÎ/ öNçFZä. ÏmŠÏù tbqàÿÎ=tGøƒrB ÇÊÏÍÈ

Artinya:
161.  Katakanlah: "Sesungguhnya Aku Telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik".
162.  Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
163.  Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan Aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".
164.  Katakanlah: "Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan."
a)    Munasabah
Hubungan surat Al An’am dengan surat Al A’raf: pada bagian terakhir surat Al an ‘am Allah mengatakan bahwa Dia menjadikan manusia khalifah-khalifah di bumi serta mengangkat derajat sebagian mereka, maka bagian pemulaan surat Al A’raaf Allah  mengemukakan penciptaan Adam dan anak cucunya dan di jadikan –Nya khalifah di atas  bumi begitu juga anak cucunya .[17]
b)   Tafsiran
Agama yang benar dan jalan yang lurus ialah agama Ibrahim, ini menjadikan manusia dapat berjalan lurus, kelurusan itu menjadikan si pejalan tidak mencong ke kiri, tidak pula ke kanan. Ajaran Nabi Ibrahim AS adalah hanif, tidak bengkok ke arah kiri atau ke arah kanan, tidak  tenggelam pada spiritualisme, tidak juga pada matrealisme, tetapi tidak juga mengabaikan keduanya. Keberadaan nabi SAW meyuruh  manusia mengikuti agama Ibrahim  yang hanif  tidaklah memastikan keberadaan  Ibrahim itu lebih sempurna dari pada  Muhammad SAW. Hal itu karena Muhammad  telah menjalankan agama itu dalam suatu kebesaran dan menyempurnakannya secara tuntas dan belum pernah ada orang yang menyempurnakannya sesempurna yang dilakukan nabi.
Ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, dipersamakan dengan millah Ibrahim, karena prinsip-prinsip ajaran Nabi Ibrahim, yaitu tauhid, kesesuaian dengan fitrah, moderasi, penegakkan hak dan keadilan, keramahtamahan  dan lain- lain.[18] Nabi SAW diperintahkan  untuk menyebut  empat hal yang berkaitan dengan wujud dan aktifitas beliau, yaitu shalat dan ibadah, serta hidup dan mati. Dua  yang pertama termasuk dalam aktifitas  yang berada dalam pilihan manusia .ini berbeda dengan hidup dan mati, keduanya di tangan Allah SWT.Manusia tidak memiliki pilihan dalam kedua hal ini .[19]  
Adapun  hidup dan mati, maka keadaannya lebih jelas lagi, karena memang sejak semula kita telah menyadari bahwa keduanya adalah milik Allah dan berada dalam genggaman tangan-Nya. Allah Taala berfirman: ’’ katakanlah! sesunnguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku  hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. Allah taala menyuruh Nabi SAW untuk memberitahukan kepada kaum musyrikin yang menyembah selain Allah dan menyembelih ternak bukan atas nama Allah bahwa Ibrahim itu berlainan dengan mereka dalam soal itu.sebab sholat Ibrahim adalah untuk Allah, ibadahnya atas nama Dia Yang Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Hal ini seperti seperti firman firman Allah Ta’ala : ”Maka shalatlah kepada Tuhan mu dan sembelihan kurban“. Yakni ikhlaskan shalatmu dan sembelihanmu untuk Dia Allah Yang Maha Esa tiada sekutu baginya . [20]
Oleh sebab itu seharusnyalah seorang yang beriman menetapkan hatinya agar hidupnya hanya untuk Allah, matinya pun untuk Allah. Sehinnga dia senantiasa menginginkan kebaikkan, kesalehan dan perbaikkan dalam setiap amal yang dia lakukan, dan mencari kesempurnaan untuk dirinya dengan harapan bisa mati dengan kematian yang di ridhoi Allah .[21]

 IV.            ANALISIS
Dalam surah Al-An’am ayat 97 Allah menjelaskan tentang bintang-bintang, sebagian ‘Ulama’ salaf berkata “barangsiapa yang meyakini bahwa planet tidak memiliki tiga fungsi, maka dia benar-benar telah melakukan kesalahan dan berdusta terhadap Allah, yaitu sesungguhnya Dia menjadikannya sebagai hiasan, alat untuk pelempar setan, dan untuk dijadikan petunjuk oleh manusia di kegelapan daratan dan lautan.
Kata Qinwaan dalam surah Al-An’am ayat 99 merupakan jama’ dari Qanwuun, yang berarti tandan kurma mentah yang dekat untuk dijangkau. Maksudnya ialah pohon kurma yang pendek, sehingga tandannya menyentuh tanah. Firman Allah Ta’ala “Dan kebun-kebun anggur”, kurma dan anggur merupakan dua jenis buah yang paling berharga bagi penduduk Hijaz, dan barangkali merupakan dua jenis buah terpilih di dunia.
Dalam surah Yunus diterangkan kata dhiya’ dan nur. Ayat ini menamai sinar matahari(dhiya’) karena cahayanya menghasilkan panas, sedangkan nur memberi cahaya yang tidak terlalu besar dan juga tidak menghasilkan kehangatan. Dari sini, kita dapat berkata bahwa sinar matahari bersumber dari dirinya sendiridan cahaya bulan adalah pantulan.
Dalam surah An-Nahl, dijelaskan bahwa kuda, bighal dan keledai yang dijadikan Allah untuk ditunggangi dan sebagai perhiasan. Itulah tujuan utama dari ternak itu. Tatkala Allah menjelaskan binatang ternak dan menyebutkan jenis ini secara khusus, maka sebagian ‘Ulama’ menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk mengharamkan kuda. Di antara ‘Ulama’ itu ialah Imam Abu Hanifah. Pengharaman itu karena Allah menyertakan kuda dengan bighal dan keledai yang diharamkan itu. Sehubungan dengan itu telah diriwayatkan beberapa hadits dari Khalid bin Walid yang menjadi sumbernya, jika hadits itu shahih. Namun hadits itu tidak shahih karena di dalamnya terdapat Baqiyah bin Al-Walid dan Shalih bin Yahya. Hal sebaliknya telah ditegaskan dalam Shahihain dari Jabir bin Abdullah, dia berkata “Rasulullah melarang memakan daging keledai jinak dan beliau mengizinkan memakan daging kuda”.

    V.            SIMPULAN
Allah SWT lah satu-satunya yang menjadikan matahari bersinar untuk alam semesta dan menjadikan bulan bercahaya untuk jagad raya. Sinar matahari itu membara panas dan cahaya bulan itu berpendar dingin. Dia mengedarkan bulan pada orbit-orbit yang sudah diketahui. Dengan matahari, dihitunglah hari-hari, dan dengan bulan, diketahuilah pergantian tahun. Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang, dan semua keajaiban ciptaan-Nya dan keanehan makhluk-Nya dengan segala keindahan, keteraturan, dan kesempurnaannya terdapat bukti-bukti nyata tentang keagungan Sang penciptanya. Allah juga menganugerahkan karunia kepada hamba-hambanya dengan menciptakan binatang ternak bagi mereka. Ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, dipersamakan dengan millah Ibrahim, karena prinsip-prinsip ajaran Nabi Ibrahim.

 VI.            PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan, kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, untuk itu kami membutuhkan kritik dan saran bagi para pembaca yang bersifat membangun. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. AMIIN.







       [1] Muhammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 1998), Hlm. 436.
       [2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Volume 3, (Jakarta : Lentera Hati, 2002), Hlm. 569.
       [3] ‘Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar, Jilid 1, (Jakarta: Qisthi Press, 2007), Hlm. 616-618.
       [4] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Juz 6, (Semarang: Toha Putra, 1992), Cet. 2, Hlm. 343-344.
       [5] M. Quraish Shihab, Op. Cit., Hlm. 569-571.
       [6] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Op. Cit., Hlm. 348.
       [7] Ibid., Hlm. 350.
       [8] Ibid., Hlm. 570.
       [9] Ibid, hlm. 573-377.
       [10] M. Quraisy Syihab, Tafsir Al-Mishbah, Volume 6, (Jakarta: Lentera Hati, 2008), Cet. 9, Hlm. 20.
       [11] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Op. Cit., Juz 11, Hlm. 124.
       [12] ‘Aidh Al-Qarni, Op. Cit., Jilid 2, Hlm. 172.
       [13]  M. Quraisy Syihab, Op. Cit., Hlm. 20.
       [14] Ibid., Hlm. 173.
       [15] M. Nasib Ar-Rifai, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 2, ( Jakarta: Gema Insani Press, 1999), Hlm. 1012.
       [16] Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an, Jilid 7, (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), Cet. 1, Hlm. 168.
       [17] M. Hasbi Ashshiddiqi, Al-Qur’an dan Terjemahnnya, (Surabaya: Al Hidayah, 2002), Hlm.184.
       [18] M. Qurasy syihab, Op. Cit.,  Volume 4, Hlm. 368.
       [19] Ibid., Hlm. 370.
       [20] M. Nasib Ar-Rifai, Op. Cit., Hlm. 328-329.
       [21] Ahmad Musthofa Al Maraghi, Op. Cit., Juz 8, Hlm. 158.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar