Minggu, 06 Januari 2013

Sumber Daya Manusia dan Masalah Kependudukan


SUMBER DAYA MANUSIA DAN MASALAH KEPENDUDUKAN

Manusia mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuannya yang baru, bila dibandingkan dengan makhluk lain, tubuh manusia lebih lemah, manusia tidak dapat terbang seperti burung, tidak dapat berenang seperti buaya, dan lain-lain, tapi rohaninya (akal budi dan kemauannya) jauh lebih kuat. Dengan akal budi dan kemauannya, manusia dapat menjadi makhluk yang lebih dari makhluk lain. Hal ini terbukti, saat ini manusia telah mampu menguasai dunia dan hewan. Itu semua dapat terjadi karena hanya manusia yang memiliki akal budi dan kemauan yang keras. Dengan pertolongan akal budinya, manusia menemukan berbagai cara untuk melindungi dirinya terhadap pengaruh lingkungan yang merugikan. Pada hakikatnya, perkembangan pikiran manusia didasari dari dorongan rasa ingin tahu dan ingin memahami serta memecahkan masalah yang dihadapi.[1]
Perkembangan manajemen SDM didorong oleh beberapa masalah, yaitu:
a)    Masalah ekonomi, yang meliputi:
Ø Semakin disadari bahwa SDM paling berperan dalam mewujudkan tujuan organisasi, karyawan dan masyarakat.
Ø Karyawan akan meningkatkan moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja jika kepuasan diperoleh dari pekerjaannya.
Ø Terjadinya persaingan yang tajam untuk mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas antar organisasi.
b)   Masalah politis, yang meliputi:
Ø HAM semakin mendapatkan perhatian dan kerja paksa tidak diperkenankan lagi.
Ø Organisasi buruh semakin banyak dan semakin kuat mengharuskan perhatian lebih baik terhadap SDM.
Ø Campur tangan pemerintah dalam mengatur perburuhan semakin banyak.
Ø Adanya persamaan hak dan keadilan dalam memperoleh kesempatan kerja.
c)    Masalah sosial, yang meliputi:
Ø Timbulnya pergeseran nilai di dalam masyarakat akibat pendidikan dan kemajuan teknologi.
Ø Berkurangnya rasa kebanggaan terhadap hasil pekerjaan akibat adanya spesialisasi pekerjaan yang mendetail.
Ø Semakin banyak pekerja wanita yang karena kodratnya perlu mendapatkan pengaturan dengan undang-undang.[2]
Manusia sebagai makhluk berfikir dibekali hasrat ingin tahu tentang benda dari peristiwa yang terjadi disekitarnya termasuk juga ingin tahu tentang dirinya sendiri. Rasa ingin tahu inilah mendorong manusia untuk memahami dan menjelaskan gejala-gejala alam, baik alam besar maupun alam kecil, serta berusaha memecahkan masalah yang dihadapi. Setelah tahu apa-nya, meraka ingin tahu bagaimana dan mengapa. Manusia mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuannya yang baru menjadi pengetahuan yang lebih baru. Hal demikian telah berlangsung berabad-abad, sehingga terjadi penumpukan pengetahuan. Rasa ingin tahu semacam itu tidak dimiliki oleh hewan. Rasa ingin tahu pada hewan terbatas pada rasa ingin tahu yang tetap (tidak berubah dari zaman ke zaman).  Rasa ingin tahu pada manusia tidak sama. Rasa ingin tahunya terus berkembang seakan tidak ada batasnya. Hal ini mengakibatkan perbendaharaan pengetahuan manusia semakin bertambah, tidak saja meliputi kebutuhan, tapi juga sampai kepada hal-hal yang menyangkut keindahan. Manusia sebagai makhluk berfikir dibekali hasrat ingin tahu terhadap benda dan semua peristiwa yang terjadi di sekitarnya, bahkan juga ingin tahu terhadap dirinya sendiri.[3]
Masalah lingkungan hidup dan kependudukan, yaitu masalah pencemaran lingkungan fisik, desertifikasi, deforestasi, overs eksploitasi terhadap sumber-sumber alam, serta berbagai fenomena degradasi ekologis semakin hari semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan. Keprihatinan ini tidak saja memberikan agenda penanganan masalah lingkungan yang bijak, namun juga warning bagi kehidupan, bahwa kondisi lingkungan hidup sedang berada pada tahap memprihatinkan. Seandainya tidak dilakukan upaya penanggulangan secara serius, maka dalam jangka waktu tertentu kehidupan ini akan musnah. Padatnya penduduk suatu daerah akan menyebabkan ruang gerak suatu daerah semakin terciut, dan hal ini disebabkan manusia merupakan bagian integral dari ekosistem, dimana manusia hidup dengan mengeksploitasi lingkungannya. Pertumbuhan penduduk yang cepat meningkatkan permintaan terhadap sumber daya alam. Pada saat yang sama meningkatnya konsumsi yang disebabkan oleh membengkaknya jumlah penduduk yang pada akhirnya akan berpengaruh pada semakin berkurangnya produktifitas sumber daya alam. Faktor lingkungan selalau mengalami perubahan. Perubahan ini dapat terjadi secara tiba-tiba ataupun secara perlahan-lahan. Manusia dengan pengetahuannya mampu mengubah keadaan lingkungan sehingga menguntungkan dirinya guna memenuhi kebutuhannya.[4]
Mula-mula pengaruh manusia terhadap lingkungannya dan keselarasannya ini tidaklah terlalu besar, alam masih sanggup membuat keseimbangan baru akibat perubahan yang dibuat manusia. Namun apa yang terjadi kemudian sangatlah mencemaskan kita semua. Manusia karena evolusi kebudayaannya melahirkan ilmu dan teknologi yang kadang-kadang, sekalipun belum dikuasai sepenuhnya telah digunakan secara luas, sehingga bukanlah hal yang mustahil, hal ini justru menghancurkan kemampuan alam untuk memulihkan diri. Akibatnya lingkungan tidak lagi mendukung kehidupan, akhirnya berhenti pula manusia sebagai penduduk bumi.  Dengan ilmu dan teknologi, kemampuan manusia untuk mengubah lingkungan semakin besar. Mulailah manusia melepaskan diri dari ketergantungan pada alam sekitarnya, dia merasa bahwa alam diciptakan untuk manusia dan karena itu alam haruslah ditaklukkan untuk kepentingannya. Dilain pihak kemajuan-kemajuan dalam bidang kebudayaan telah pula menambah kebutuhan manusia. Terlihat bahwa populasi manusia yang berkembang dengan pesat ini, di dampingi oleh perubahan lingkungan yang terus menerus, akhirnya perlu mendapatkan perhatian dan tindakan bersama yang terencana dan terkoordinir, sehingga janganlah sampai menjurus ke arah yang dapat membahayakan kelangsungan hidup manusia itu sendiri.[5]
Pada kenyataannya sekarang, tidak semua negara memiliki kekayaan sumber daya alam yang sama. Hal ini disebabkan antara lain karena penyebaran SDA di bumi ini tidaklah merata, disamping itu pula jumlah penduduk suatu negara dan kemampuan teknologi yang dimilikinya turut mempengaruhi kemakmuran suatu negara. Cepat atau lambat habisnya SDA tersebut tergantung jumlah pemakainya, yaitu penduduk bumi ini. Kemiskinan merupakan ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan materiil dasar berdasarkan standar tertentu. Adapun standar ini lebih dikenal dengan garis kemiskinan, yaitu tingkat pengeluaran atas kebutuhan pokok yang meliputi sandang, pangan, papan secara layak. Upaya-upaya yang dapat diterapkan untuk menanggulangi kemiskinan:
Ø Meningkatkan sumber daya ekonomi yang dimiliki penduduk miskin.
Ø Memberikan program penyuluhan dan pembekalan keterampilan.
Ø Menyediakan pasar-pasar bagi penjualan produksi penduduk pasar.[6]
Besarnya penduduk di suatu negara sering menjadi problem yang dilematis. Di satu sisi, besarnya jumlah penduduk merupakan modal dasar dan potensi. Namun di sisi lain, penduduk yang besar sering menimbulkan banyak masalah. Misalnya terkait masalah kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial, dan lain-lain.Fakta tingginya angka pertumbuhan penduduk akan menimbulkan berbagai konsekuensi. pertumbuhan penduduk harus mampu dikendalikan. Untuk itu, perencanaan pembangunan harus menjadikan profil kependudukan sebagai dasar utama dalam menentukan arah, sasaran, dan prioritas pembangunan. Fenomena besarnya jumlah penduduk dengan kualitas rendah dan pertumbuhan yang cepat akan menjadi ancaman bagi keberhasilan pembangunan lainnya. Berbagai bukti empiris menunjukkan bahwa kemampuan bangsa ditentukan oleh kualitas SDM, bukan melimpahnya sumber daya alam. Upaya mewujudkan bangsa yang berdaya saing adalah dengan mengendalikan jumlah dan laju pertumbuhan penduduk serta lebih memperhatikan pendidikan.[7]
80 persen kemajuan ekonomi ditentukan oleh kualitas SDM, bukan oleh SDA yang melimpah. Pertumbuhan ekonomi tidak akan berjalan tanpa dukungan SDM memadai dan berkualitas. pembangunan kualitas SDM sendiri juga tak akan terwujud tanpa adanya pertumbuhan ekonomi. Dan, keduanya tak akan terjadi tanpa adanya upaya mengendalikan jumlah penduduk yang besar itu sendiri. Tidak adanya sinergi kebijakan lintas sektor mengakibatkan ketidakmampuan menyediakan lapangan kerja produktif sehingga tak terjadi peningkatan pendapatan per kapita dan akumulasi tabungan rumah tangga (household saving) yang kemudian bisa diinvestasikan kembali untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja. Singkatnya, bonus demografi hanya akan terjadi kalau ada upaya rekayasa demografi yang dibarengi dengan peningkatan kualitas SDM (human capital deepening). Kualitas ini bukan hanya menyangkut pendidikan, tetapi juga aspek gizi, kesehatan, dan soft skill sehingga pendekatan kebijakannya juga harus life cycle approach dan lintas sektor karena investasi modal manusia ini sifatnya investasi sosial jangka panjang yang hasilnya (return on investment) baru akan bisa dinikmati dalam 30 tahun. Sebab-sebab permintaan SDM adalah:
1.    Faktor Internal
Faktor internal adalah kondisi persiapan dan kesiapan SDM sebuah organisasi/perusahaan dalam melakukan operasional bisnis pada masa sekarang dan untuk mengantisipasi perkembangannya dimasa depan. Dengan kata lain faktor internal adalah alasan permintaan SDM, yang bersumber dari kekurangan SDM didalam organisasi/perusahaan yang melaksanakan bisnisnya, yang menyebabkan diperlukan penambahan jumlah SDM. Alasan ini terdiri dari:
Ø Faktor Rencana Strategik dan rencana operasional
Ø Faktor prediksi produk dan penjualan
Ø Faktor pembiayaan (cost) SDM
Ø Faktor pembukaan bisnis baru (pengembangan bisnis)
Ø Faktor desain Organisasi dan Desain Pekerjaan
Ø Faktor keterbukaan dan keikutsertaan manajer
2.    Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah kondisi lingkungan bisnis yang berada diluar kendali perusahaan yang berpengaruh pada rencana strategic dan rencana operasional, sehingga langsung atau tidak langsung berpengaruh pada perencanaan SDM. Faktor eksternal tersebut pada dasarnya dapat dikategorikan sebagai sebab atau alasan permintaan SDM dilingkungan sebuah organisasi/perusahaan. Sebab atau alasan terdiri dari:
Ø Faktor Ekonomi Nasional dan Internasional (Global)
Ø Faktor Sosial, Politik dan Hukum
Ø Faktor Teknologi
Ø Faktor Pasar Tenaga Kerja dan Pesaing
3.    Faktor Ketenagakerjaan
Faktor ini adalah kondisi tenaga kerja (SDM) yang dimiliki perusahaan sekarang dan prediksinya dimasa depan yang berpengaruh pada permintaan tenaga kerja baru. Kondisi tersebut dapat diketahui dari hasil audit SDM dan Sistem Informasi SDM (SISDM) sebagai bagian dari Sistem Informasi manajemen (SIM) sebuah organisasi/perusahaan.[8]
Mutu sumber daya manusia pada suatu negara dapat dilihat dari tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan tingkat kesehatannya:
a.    Tingkat Pendapatan Penduduk
Untuk melihat tingkat pendapatan biasanya diukur dari besarnya pendapatan per kapita. Pendapatan per kapita yaitu pendapatan yang diperoleh rata-rata tiap penduduk selama satu tahun. Pendapatan itu dihitung dari pendapatan nasional secara keseluruhan dibagi dengan jumlah penduduk.
b.   Tingkat Pendidikan Penduduk
Tingkat pendidikan berkaitan erat dengan kemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Bidang pendidikan merupakan kunci utama kemajuan sebab melalui jalur pendidikan dapat mempercepat proses alih teknologi dari negara maju dan juga mendorong penemuan teknologi baru. Tingkat pendidikan penduduk yang tinggi memungkinkan penduduk dapat mengolah sumber daya alam dengan baik sehingga kesejahteraan penduduk dapat segera diwujudkan.
c.    Tingkat Kesehatan Penduduk
Produktivitas seseorang sangat ditentukan oleh tingkat kesehatannya. Tingkat kesehatan suatu negara dapat dilihat dari besarnya angka kematian, terutama kematian bayi dan ibu saat  melahirkan. Kesehatan berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan papan. Apabila salah satu kebutuhan tidak terpenuhi maka dapat terganggulah kesehatannya. Rendahnya kualitas kesehatan penduduk umumnya disebabkan oleh: lingkungan tidak sehat, gizi makanan yang rendah dan adanya penyakit-penyakit menular.[9]


DAFTAR PUSTAKA
[1]  Safari, Ahmad, “Perkembangan Pola Pikir Manusia”, http://bumikupijak.com/article/knowledge/html.
[2]  Anonbig, “Manajemen SDM”, http://tuloe.wordpress.com.
[3]  Purnama, Hari, 2003. Ilmu Alamiah Dasar, Jakarta: Rineka Cipta.
[4]  Jasin, Maskoeri, 1998. Ilmu Alamiah Dasar, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
[5]  Emeritus, “Overpopulation”, http://en.wikipedia.org/wiki/.
[6]  Wahid, Abdul, “Permasalahan Kependudukan Berkaitan Dengan Kuantitas Penduduk Dan Cara Penanggulangannya”, http;//meetabied.wordpress.com.    
[7]  “SDM Berkualitas Demi Persaingan Global”, http://kesehatan.kompas.com/read/2009/06/23/17373378/.
     [8]  “Problem Kependudukan”, http://bataviase.co.id/node/197235.
[9]  Raharjo, Eko, 2000. Sumber Daya Manusia, Jakarta: Yudhistira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar