Minggu, 06 Januari 2013

Proses Belajar

Proses Belajar
       I.            PENDAHULUAN
Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap. Belajar dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat. Pada waktu bayi, seorang bayi menguasai keterampilan-keterampilan yang sederhana, seperti memegang botol dan mengenal orang-orang di sekelilingnya. Ketika menginjak masa anak-anak dan remaja, sejumlah sikap, nilai dan keterampilan berinteraksi social dicapai sebagai kompetensi. Pada saat dewasa, individu diharapkan telah mahir dengan tugas-tugas kerja tertentu dan keterampilan-keterampilan fungsional lainnya, seperti mengendarai mobil, berwiraswasta, dan menjalin kerja sama dengan orang lain. Kemampuan manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Belajar mempunyai keuntungan, baik bagi individu maupun bagi masyarakat. Bagi individu, kemampuan untuk belajar secara terus-menerus akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan kualitas hidupnya. Sedangkan bagi masyarakat, belajar mempunyai peran yang penting dalam mentransmisikan budaya dan pengetahuan dari generasi ke generasi.
    II.            POKOK BAHASAN
Di dalam makalah ini, kami akan mencoba memaparkan tentang beberapa pokok bahasan sebagai berikut:
A.    Definisi Proses Belajar
B.     Beberapa Aktivitas Belajar dan Tipe-Tipe Belajar
C.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar
D.    Kesulitan Belajar
 III.            PEMBAHASAN
A.    Definisi Proses Belajar
Proses adalah kata yang berasal dari bahasa Latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan”. Kata ini mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. Menurut Chaplin, proses adalah suatu perubahan khususnya yang menyangkut perubahan tingkah laku atau perubahan kejiwaan. Dalam psikologi belajar, proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu. Jadi, proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya.[1]
Tahap-tahap proses belajar:
v  Tahap motivasi, yaitu saat motivasi dan keinginan siswa untuk melakukan kegiatan belajar bangkit. Misalnya, siswa tertarik untuk memerhatikan apa yang akan dipelajari, melihat apa yang ditunjukkan guru (buku, alat peraga), dan mendengarkan apa yang diucapkan guru.
v  Tahap konsentrasi, yaitu saat siswa harus memusatkan perhatian, yang telah ada pada tahap motivasi, untuk tertuju pada hal-hal yang relevan dengan apa yang akan dipelajari. Pada fase motivasi mungkin perhatian siswa hanya tertuju kepada penampilan guru (pakaian, tas, model rambut, sepatu, dan lain sebagainya).
v  Tahap mengolah, siswa menahan informasi yang diterima dari guru dalam Short Term Memory, atau tempat penyimpanan ingatan jangka pendek, kemudian mengolah informasi-informasi untuk diberi makna berupa sandi-sandi sesuai dengan penangkapan masing-masing. Hasil olahan itu berupa simbol-simbol khusus yang antara satu siswa dengan siswa lainnya berbeda. Symbol hasil olahan bergantung dari pengetahuan dan pengalaman sebelumnya serta kejelasan penangkapan siswa. Karena itu, tidaklah merupakan hal yang aneh jika setiap siswa akan berbeda penangkapannya terhadap hal yang sama yang diberikan oleh seorang guru.
v  Tahap menyimpan, yaitu siswa menyimpan symbol-simbol hasil olahan yang telah diberi makna ke dalam Long Term Memory (LTM) atau gudang ingatan jangka panjang. Pada tahap ini hasil belajar sudah diperoleh, baik baru sebagian maupun keseluruhan. Perubahan-perubahan pun sudah terjadi, baik perubahan pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Untuk perubahan sikap dan keterampilan itu diperlukan belajar yang tidak hanya sekali saja, tapi harus beberapa kali, baru kemudian tampak perubahannya.
v  Tahap menggali:
Ø Tahap menggali (1), yaitu siswa menggali informasi yang telah disimpan dalam LTM ke STM untuk dikaitkan dengan informasi baru yang dia terima. Ini terjadi pada pelajaran waktu berikutnya yang merupakan kelanjutan pelajaran sebelumnya. Penggalian ini diperlukan agar apa yang telah dikuasai menjadi kesatuan dengan yang akan diterima, sehingga bukan menjadi yang lepas-lepas satu sama lain. Setelah penggalian informasi dan dikaitkan dengan informasi baru, maka terjadi lagi pengolahan informasi untuk diberimakna seperti halnya dalam tahap mengolah untuk selanjutnya disimpan dalam LTM lagi.
Ø Tahap menggali (2), menggali informasi yang telah disimpan dalam LTM untuk persiapan fase prestasi, baik langsung maupun melalui STM. Tahap menggali 2 diperlukan untuk kepentingan kerja, menyelesaikan tugas, menjawab pertanyaan atau soal/latihan.
v  Tahap prestasi, informasi yang telah tergali pada tahap sebelumnya digunakan untuk menunjukkan prestasi yang merupakan hasil belajar. Hasil belajar itu misalnya berupa keterampilan mengerjakan sesuatu, kemampuan menjawab soal, atau menyelesaikan tugas.
v  Tahap umpan balik, siswa memperoleh penguatan (konfirmasi) saat perasaan puas atas prestasi yang ditunjukkan. Hal ini terjadi jika prestasinya tepat. Tapi sebaliknya, jika prestasinya jelek, perasaan tidak puas maupun tidak senang itu bisa saja diperoleh dari guru (eksternal) atau dari diri sendiri (internal).[2]
B.     Beberapa Aktivitas Belajar dan Tipe-Tipe Belajar
1)      Beberapa Aktivitas Belajar
Meskipun orang telah mempunyai tujuan tertentu dalam belajar serta telah memilih sikap yang tepat untuk merealisir tujuan itu, namun tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan sangat dipengaruhi oleh situasi. Setiap situasi di mana pun dan kapan saja memberi kesempatan belajar kepada seseorang. Situasi ini ikut menentukan sikap belajar yang dipilih. Berikut ini dikemukakan beberapa contoh aktivitas belajar dalam beberapa situasi:
ü Mendengarkan
ü Memandang
ü Meraba, membau, dan mencicipi/mencecap
ü Menulis atau mencatat
ü Membaca
ü Membuat ikhstisar atau ringkasan, dan menggarisbawahi
ü Mengamati table-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan
ü Menyusun paper atau kertas kerja
ü Mengingat
ü Berpikir
ü Latihan atau praktek
2)      Tipe-Tipe Belajar
Dalam proses belajar dikenal adanya bermacam-macam kegiatan yang memiliki corak yang berbeda antara satu dengan lainnya, baik dalam aspek materi dan metodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang juga bermacam-macam.
a)   Belajar abstrak, ialah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat di samping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi.
b)   Belajar keterampilan, adalah belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat saraf dan otot-otot. Tujuannya adalah memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniyyah tertentu. Dalam belajar jenis ini, latihan-latihan intensif dan teratur amat diperlukan.
c)   Belajar social, pada dasarnya adalah belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah social. Selain itu, belajar social juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepetingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain atau kelompok lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
d)  Belajar pemecahan masalah, pada dasarnya adalah belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas. Untuk itu, kemampuan siswa dalam menguasai konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi serta insight amat diperlukan.
e)   Belajar rasional, ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan rasional. Tujuannya ialah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Dengan belajar rasional, siswa diharapkan memiliki kemampuan rational problem solving, yaitu kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan  pertimbangan strategi akal sehat, logis dan sistematis.
f)    Belajar kebiasaan, adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah suri teladan dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukum dan ganjaran. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang waktu (kontekstual).
g)   Belajar apresiasi, adalah belajar mempertimbangkan arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa yang dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu.
h)   Belajar pengetahuan, ialah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu. Studi ini juga dapat diartikan sebagai sebuah program belajar terencana untuk menguasai materi pelajaran dengan melibatkan kegiatan investigasi/penelitian dan eksperimen/percobaan. Tujuan belajar pengetahuan adalah agar siswa memperoleh atau menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu yang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya.[3]
C.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar
Secara umum, factor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu factor internal dan factor eksternal. Kedua factor tersebut saling mempengaruhi dalam proses belajar individu, sehingga menentukan kualitas hasil belajar.
1)      Factor Internal
Factor internal adalah factor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Factor-faktor internal ini meliputi factor fisiologis dan psikologis.
Ø  Factor fisiologis, adalah factor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Factor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam.
·      Pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat mempengaruhi aktivitas belajar seseorang. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena keadaan tonus jasmani sangat mempengaruhi proses belajar, maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani.
·      Kedua, keadaan fungsi jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologi pada tubuh manusia sangat mempengaruhi hasil belajar, terutama pancaindra. Pancaindra yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula.[4]
Ø  Factor psikologis, adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa factor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah:
·      Kecerdasan siswa, pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik dalam mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh yang lain.
·      Motivasi, motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat. Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku seseorang.
·      Minat, secara sederhana, minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.
·      Sikap, dalam proses belajar, sikap individu dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dengan cara yang relative tetap terhadap objek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negative.
·      Bakat, secara umum, bakat didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan dating. Berkaitan dengan belajar, Slavin mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang siswa untuk belajar.
2)      Factor Eksternal
Dalam hal ini, Syah menjelaskan bahwa factor-faktor eksternal yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu:
Ø  Lingkungan social:
·      Lingkungan social sekolah
·      Lingkungan social masyarakat
·      Lingkungan social keluarga
Ø  Lingkungan nonsosial, factor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah:
·      Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas, dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau, atau tidak terlalu gelap, suasana yang sejuk dan tenang.
·      Factor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan olahraga, dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, dan lain sebagainya.
·      Factor materi pelajaran, factor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa, begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikan dengan kondisi perkembangan siswa.[5]

D.    Kesulitan Belajar
Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancer, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Demikian antara lain kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktivitas belajar. Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. Dalam keadaan dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan “Kesulitan Belajar”.
Banyak langkah-langkah untuk mendiagnosis kesulitan belajar, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener & Senf sebagai berikut:
1)      Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
2)      Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar.
3)      Mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
4)      Memberikan tes diagnostic bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
5)      Memberikan tes kemampuan intelegensi khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.[6]
Burton mengidentifikasi seorang siswa dapat dipandang atau dapat diduga mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan menunjukkan kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Kegagalan belajar didefinisikan oleh Burton sebagai berikut:
v  Siswa dikatakan gagal apabila dalam batas waktu tertentu, yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan minimal dalam pelajaran tertentu.
v  Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya: inteligensi, bakat).
v  Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian social sesuai dengan pola organismiknya pada fase perkembangan tertentu.
v  Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya.[7]
 IV.            SIMPULAN
Proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya. Tahap-tahap proses belajar: tahap motivasi, konsentrasi, mengolah, menyimpan, menggali, prestasi dan umpan balik. Beberapa contoh aktivitas belajar, yaitu: Mendengarkan, memandang, meraba, membau, dan mencicipi/mencecap, menulis atau mencatat, membaca, membuat ikhstisar atau ringkasan, dan menggarisbawahi, mengamati table-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan, menyusun paper atau kertas kerja, mengingat, berpikir, latihan atau praktek. Tipe-tipe belajar: belajar abstrak, keterampilan, social, pemecahan masalah, rasional, kebiasaan, apresiasi, pengetahuan. Factor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu factor internal dan factor eksternal. Kedua factor tersebut saling mempengaruhi dalam proses belajar individu, sehingga menentukan kualitas hasil belajar. Keadaan dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan “Kesulitan Belajar”.
    V.            PENUTUP
Demikianlah pemaparan makalah dari kami, semoga bisa membawa manfaat bagi kita semua. Kami mengakui bahwa makalah kami masih banyak kesalahan, oleh karena itu kami meminta ma’af yang sedalam-dalamnya. Selanjutnya kritik dan saran dari para saudara tercinta sangat kami butuhkan demi perbaikan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Syah, Muhibbin, 2009. Psikologi Belajar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Baharuddin, dkk., 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta: Ar-Ruz Media.

Dalyono, M., 2009. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.

Makmun, Abin Syamsuddin, 2007. Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya.



         [1] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009), Hlm. 109.
         [2] Baharuddin, dkk., Teori Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2010), Hlm. 17-18.
         [3] M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), Hlm. 225-228.
         [4] Baharuddin, dkk., Op. Cit., Hlm. 19.
         [5] Ibid., Hlm. 20.
         [6] Muhibbin Syah, Op. Cit., Hlm. 187.
         [7] Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), Hlm. 308.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar